Malam itu, angin berhembus pelan di Desa Tegalalang, membawa aroma dupa yang lembut dan misteri yang lebih dalam dari malam-malam biasa. Langit Bali yang biasanya dihiasi bintang-bintang kini terasa muram, seperti meramalkan sesuatu yang tak terhindarkan.
Made duduk di beranda rumah tua warisan keluarganya, memandangi pohon
kelapa yang bergoyang di kejauhan. Suara gemericik air dari sawah terasering
yang melingkari desa biasanya membawa ketenangan, tetapi kali ini, dia merasa
resah. Bayang-bayang gelap yang merayap di benaknya tidak pernah terasa begitu
berat.
Ibunya, Ni Luh, belum kembali sejak matahari terbenam. Ni Luh memang
dikenal sebagai dukun penyembuh di desa itu. Setiap hari, warga desa datang
padanya, meminta pertolongan untuk berbagai macam masalah—dari penyakit hingga
masalah keluarga. Dia adalah pilar penting bagi banyak orang, termasuk Made.
Namun, malam ini ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang lebih gelap dari
sekadar ilmu penyembuhan.
Teguran warga desa baru-baru ini masih terngiang di telinga Made.
"Kamu harus hati-hati, De," kata Pak Nyoman, seorang tetangga yang
sudah lama tinggal di sana. "Ada yang bilang, Leak sedang
berkeliaran lagi. Kita tidak tahu siapa, tapi angin membawa kabar buruk. Dan
angin tidak pernah berbohong."
Sudah beberapa minggu terakhir, suasana di Desa Tegalalang terasa berubah.
Warga desa yang biasanya hidup damai mulai dibayangi oleh ketakutan yang tak
terlihat namun terasa nyata. Itu semua dimulai dengan kematian mendadak
beberapa ternak milik warga. Sapi dan ayam ditemukan mati dengan luka aneh di
leher dan tubuh mereka, seakan-akan darah mereka dihisap hingga kering.
Kejadian ini tentu saja menimbulkan bisik-bisik di kalangan penduduk desa.
“Aku melihat sosok berbayang di hutan malam itu,” kata seorang warga, mata
mereka berkaca-kaca. “Seperti bayangan perempuan, tapi wajahnya... tidak
seperti manusia.”
Cerita ini menyebar cepat. Malam-malam di desa menjadi semakin sunyi, tidak
ada lagi warga yang berani keluar setelah matahari terbenam. Mereka yang
terpaksa bekerja di ladang hingga larut, kembali dengan cerita yang lebih
menakutkan—tentang suara tertawa cekikikan yang datang dari balik pohon, atau
sosok aneh yang melayang di atas sawah sebelum menghilang di balik kabut.
Namun yang paling mencengangkan adalah kematian Pak Ketut, seorang petani
yang ditemukan tak bernyawa di tengah sawah pada suatu pagi. Wajahnya membiru,
dengan ekspresi ngeri seolah dia melihat sesuatu yang sangat menakutkan sebelum
dia menghembuskan nafas terakhirnya. Orang-orang yang menemukan jasadnya
mengatakan tubuh Pak Ketut tidak menunjukkan tanda-tanda kekerasan fisik, tapi
tubuhnya dingin seperti es, seolah-olah darahnya telah membeku di dalam tubuh.
“Kematian ini tidak wajar,” bisik seorang tetua desa saat mayat Pak Ketut
dibawa ke balai desa. “Ini pekerjaan Leak. Aku yakin ada seseorang di
antara kita yang sudah belajar ilmu hitam.”
Kejadian demi kejadian ini membuat penduduk desa semakin cemas. Apalagi
ketika semakin banyak orang yang mengaku mendengar suara-suara aneh di malam
hari. Bau busuk yang tak wajar kadang-kadang tercium di sepanjang jalan,
mengambang di udara tanpa ada sumber yang jelas.
Setiap malam, dari arah hutan yang mengelilingi desa, terdengar suara
tangisan perempuan yang melengking. Beberapa warga yang cukup berani mencoba
mencari sumber suara itu, tetapi selalu kembali dengan wajah pucat dan lidah
kelu. Satu hal yang mereka semua setujui: suara itu bukan berasal dari manusia.
Peristiwa-peristiwa itu membuat desas-desus tentang Leak yang dulu
hanya legenda mulai berubah menjadi ketakutan nyata. Beberapa warga bahkan
mulai mencurigai satu sama lain. “Aku melihat Ni Luh pergi ke hutan
malam-malam,” kata salah satu tetangga dengan bisik-bisik. “Mungkin dia yang
memanggil Leak.”
Ketakutan itu berubah menjadi amarah. Tidak ada bukti nyata bahwa Ni Luh
adalah penyebabnya, tapi siapa lagi yang punya pengetahuan tentang dunia mistik
seperti dia? Apalagi, banyak yang ingat bahwa sejak suaminya meninggal
bertahun-tahun lalu, Ni Luh sering menghabiskan waktu di hutan, mungkin untuk
melakukan ritual-ritual rahasia yang tidak dipahami orang biasa.
“Aku yakin ada Leak di antara kita,” desak seorang warga lain.
“Kalau tidak, dari mana datangnya semua kematian dan keanehan ini?”
Desa yang tadinya damai berubah menjadi tempat di mana ketakutan dan
kecurigaan berkuasa. Hingga akhirnya, pemimpin desa memutuskan untuk memanggil pemangku
sakti dari desa tetangga, seseorang yang dikenal memiliki kekuatan untuk
melacak dan mengusir Leak. Bagi warga desa, kedatangan pemangku
ini adalah harapan terakhir mereka untuk menghentikan teror yang tak kasat mata
ini.
Made berusaha menepis kecemasan itu. Leak—sosok yang selalu
diceritakan dalam mitos dan cerita rakyat desa. Made tidak pernah benar-benar
percaya, meski sejak kecil sudah akrab dengan kisah-kisah seram tentang
makhluk-makhluk jadi-jadian yang bisa berubah wujud menjadi apa saja. Namun,
sekarang desas-desus itu terasa lebih dekat, lebih nyata.
Di tengah lamunannya, suara langkah kaki terdengar dari arah halaman
belakang rumah. Made menoleh dan melihat ibunya berjalan dengan tenang dari
arah kebun kecil di belakang rumah. Wajah Ni Luh terlihat pucat di bawah cahaya
remang lampu minyak, dan ada kerutan dalam di dahi yang tidak biasa.
“Ibu dari mana saja? Sudah larut,” tanya Made, mencoba menyembunyikan
kekhawatirannya.
Ni Luh tersenyum lemah, lalu duduk di samping Made. Tangannya, yang berbau
dupa dan kembang, menyentuh bahu anaknya dengan lembut. “Aku hanya melakukan
beberapa hal yang harus diselesaikan, Nak. Tidak usah khawatir.”
Namun, Made merasa sesuatu tidak beres. Tangannya yang terbiasa kuat dan
penuh kasih kini terasa dingin, hampir seperti disentuh oleh sosok dari dunia
lain.
“Ibu pasti tahu tentang rumor di desa,” ujar Made hati-hati. “Warga mulai
bicara tentang Leak. Mereka bilang... mereka bilang ada yang melihatnya
di sekitar sini.”
Wajah Ni Luh tetap tenang, namun ada sedikit perubahan di matanya. “Kamu
terlalu mendengarkan omongan orang, Made. Banyak hal yang mereka tidak
mengerti.”
“Apakah itu benar, Bu? Apakah Ibu tahu sesuatu tentang ini?”
Hening menyelimuti mereka. Malam terasa lebih sunyi, seperti menunggu
pengakuan yang tak terhindarkan. Ni Luh akhirnya menghela napas panjang dan
menatap Made dengan tatapan yang belum pernah dilihatnya sebelumnya—tatapan
seorang ibu yang menyimpan rahasia besar.
“Ada banyak hal di dunia ini yang kamu belum pahami, Nak,” bisik Ni Luh.
“Dan beberapa hal lebih baik tetap tidak kamu ketahui.”
***
Keesokan harinya, Made masih memikirkan percakapan itu saat dia berjalan
menyusuri jalan setapak menuju pasar. Udara pagi yang segar tidak membantu
menenangkan pikirannya. Dia terus memikirkan ibunya—wanita yang selama ini
menjadi cahaya hidupnya. Sejak kecil, Made selalu mengagumi Ni Luh. Kemampuan
ibunya untuk menyembuhkan orang lain dengan doa dan ramuan tradisional sering
kali dianggap sebagai keajaiban. Namun, sekarang dia mulai mempertanyakan apa
yang sebenarnya tersembunyi di balik itu semua.
Ketika sampai di pasar, Made mendengar beberapa penduduk berbicara dengan
nada berbisik. Mereka membicarakan pemangku—dukun sakti dari desa
tetangga yang telah dipanggil untuk menyelidiki kasus Leak yang semakin
meresahkan. Konon, pemangku itu sudah berhasil mengalahkan beberapa Leak
di desa-desa lain, dan kedatangannya dianggap sebagai harapan terakhir bagi
warga Tegalalang.
Setelah selesai berbelanja, Made memutuskan untuk mengunjungi rumah Pak
Nyoman, tetangga dekatnya yang sering menjadi tempat curhatnya. Setibanya di
sana, dia disambut dengan tatapan prihatin.
“Made, desa ini sedang tidak baik-baik saja,” kata Pak Nyoman, duduk di
teras rumahnya sambil menyulut rokok. “Semalam, ada yang melihat sosok aneh di
dekat hutan. Beberapa orang bilang itu Leak. Dan semakin banyak orang
curiga… termasuk kepada keluargamu.”
Made merasa dadanya sesak. “Maksudmu… ibu?”
Pak Nyoman tidak menjawab langsung, hanya menatap Made dengan pandangan
yang sulit diartikan.
“Kamu harus jujur, Made. Jika ibumu benar-benar terlibat, kamu harus mengambil keputusan yang benar. Warga sudah mulai tidak sabar. Mereka memanggil pemangku, dan kalau ibumu terlibat, dia akan dihukum. Ritual terakhir yang dilakukan oleh Leak adalah yang paling berbahaya. Itu bisa membunuh banyak orang.”
Pengakuan Ibu
Malamnya, Made kembali ke rumah dengan perasaan berat. Dia menemukan Ni Luh
sedang duduk di ruang tamu, menyiapkan dupa dan berbagai perlengkapan ritual.
Cahaya lilin yang menerangi ruangan membuat bayangannya tampak memanjang di
dinding, memberi suasana mistis pada ruang yang biasanya terasa hangat.
“Ibu, kita harus bicara,” kata Made tegas. “Aku tidak bisa lagi
berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi. Aku dengar desa sudah memanggil pemangku.
Apa Ibu… terlibat dengan semua ini?”
Ni Luh tidak langsung menjawab. Dia menundukkan kepalanya, mengusap
jari-jarinya yang keriput dengan perlahan, seolah mengukur kata-kata yang akan
dia ucapkan. Akhirnya, dia berbicara.
“Made, ada banyak hal yang tidak kamu pahami tentang dunia ini. Sejak
ayahmu meninggal, aku harus melakukan banyak hal untuk melindungi kita. Aku
tidak ingin kamu terlibat, tapi sekarang sudah terlambat.”
Made merasakan tenggorokannya kering. “Apa maksud Ibu?”
“Aku memang memiliki hubungan dengan dunia Leak, tapi aku tidak
pernah menyakiti siapa pun. Aku hanya melakukan ini untuk melindungi desa dari
kekuatan jahat yang lebih besar. Sekarang, waktuku hampir habis. Ritual
terakhir harus segera diselesaikan, atau kita semua akan binasa.”
“Ritual terakhir?” Made berbisik, hampir tidak percaya. “Apa itu berarti Ibu…
Ibu akan…”
“Ya, aku harus menyerahkan diri, Nak. Itu satu-satunya cara untuk memutus
kutukan ini. Kalau tidak, roh Leak akan semakin kuat dan mengambil alih
seluruh desa.”
Made merasa seluruh dunianya runtuh. Ibunya yang ia cintai ternyata
menyimpan rahasia yang lebih gelap dari yang bisa ia bayangkan.
Pengorbanan
Di tengah malam, Made dan Ni Luh memulai perjalanan mereka menuju pura tua
di hutan terpencil di kaki gunung. Pura itu sudah lama dianggap keramat dan
hanya digunakan dalam upacara-upacara tertentu. Made tahu bahwa ini adalah
tempat ibunya akan melakukan ritual terakhir untuk menyelesaikan kutukannya.
Namun, mereka tidak sendirian. Pemangku dan penduduk desa, yang
curiga pada Ni Luh, mulai membuntuti mereka, berniat untuk menghentikan ritual
itu sebelum terlambat.
Malam semakin pekat saat Made dan Ni Luh berjalan menyusuri jalan setapak
menuju pura tua di tengah hutan. Di atas mereka, langit malam Bali berwarna
kelam, seakan menyatu dengan bayangan pohon kelapa dan beringin yang menjulang
tinggi, berderit tertiup angin. Udara terasa berat, dipenuhi aroma tanah basah
dan dedaunan hutan yang lebat. Setiap langkah terasa seperti tarikan waktu,
semakin mendekatkan mereka pada akhir yang tak terhindarkan.
Ni Luh berjalan di depan, tubuhnya kurus tapi langkahnya tegas. Wajahnya
yang biasanya penuh kasih sayang kini terpahat oleh kelelahan dan rahasia yang
telah terlalu lama ia simpan. Di balik kelembutannya, Ni Luh adalah sosok yang
kuat, sosok yang selama ini Made anggap sebagai pijakan hidupnya. Tapi kini,
Made tahu, pijakan itu akan segera hancur.
"Apa benar tidak ada cara lain, Bu?" Made akhirnya memecah
keheningan, suaranya nyaris tenggelam oleh angin malam.
Ibunya berhenti sejenak, menatap lurus ke depan tanpa menoleh. "Tidak
ada, Nak. Sudah terlalu lama aku terikat pada dunia ini. Aku sudah membuat
pilihan bertahun-tahun yang lalu, dan sekarang aku harus menyelesaikannya.
Kalau tidak, roh-roh jahat yang bersembunyi di balik dunia ini akan mengambil
alih desa."
Made menelan ludah, pikirannya penuh dengan ketakutan dan kebingungan.
"Tapi... desa ini tidak tahu. Mereka berpikir Ibu adalah ancaman. Mereka
memanggil pemangku untuk menghentikanmu."
Wajah Ni Luh mengeras, tetapi ada kesedihan yang mengintip dari balik mata
tuanya. "Aku tahu. Aku tidak pernah bermaksud menyakiti mereka. Tapi
ketakutan dan kebodohan mereka telah membuat semuanya sulit. Mereka tidak
mengerti bahwa aku berusaha melindungi mereka."
Suara riak air terdengar semakin dekat, mengisyaratkan bahwa mereka hampir
sampai di sungai yang harus mereka seberangi sebelum tiba di pura. Tapi di
balik suara air, Made juga bisa mendengar derap kaki—derap langkah orang-orang
yang membuntuti mereka.
“Bu, mereka mendekat,” desis Made. “Apa yang harus kita lakukan?”
Ni Luh menatapnya dengan tatapan yang tegas. “Kita harus terus berjalan.
Waktu kita hampir habis.”
Sesampainya di tepi sungai, Ni Luh melambai pada Made untuk berhenti. Di
hadapan mereka, tampak jembatan tua dari kayu yang hampir roboh, menghubungkan
jalan setapak itu dengan pura tua di balik rerimbunan pepohonan. Pura itu
tampak seperti bagian dari dunia lain, tersembunyi di balik tirai kabut tipis
yang menyelimuti gunung.
“Ayo cepat,” ujar Ni Luh sambil melangkah ke jembatan, suaranya penuh
dengan desakan.
Namun, sebelum mereka bisa melangkah lebih jauh, dari kejauhan terdengar
suara-suara para penduduk desa dan pemangku yang semakin mendekat.
Obor-obor mulai tampak berkelap-kelip di antara pepohonan, membuat jantung Made
berdegup kencang.
“Bu! Mereka sudah dekat!” seru Made, panik. “Kita tidak akan bisa kabur!”
Ni Luh menatap Made dengan tatapan yang penuh kesedihan dan pengertian.
“Aku sudah tidak bisa kabur, Nak. Ini sudah menjadi takdirku. Kamu harus
lanjutkan hidupmu setelah ini, jangan terikat oleh masa lalu.”
Tepat saat mereka menyeberangi jembatan, bayangan sosok pemangku dan
beberapa warga desa mulai muncul dari balik pepohonan. Dengan cepat, mereka
mengepung Ni Luh dan Made. Pemangku itu, seorang pria tua yang tampak tegas
dengan pakaian adatnya, melangkah maju, memegang keris yang berkilau di bawah
cahaya bulan.
"Ni Luh!" teriaknya. "Kamu sudah terlalu lama membawa
bencana bagi desa ini. Malam ini, semuanya akan berakhir."
Made berdiri di depan ibunya, mencoba melindunginya. "Dia tidak
bermaksud jahat! Ibu hanya ingin menyelesaikan ritual untuk menyelamatkan kita
semua!"
Namun, para penduduk tidak mendengarkan. Mereka terlalu diliputi ketakutan
dan kebencian terhadap sosok Leak yang mereka anggap sebagai sumber
segala kesialan yang menimpa desa belakangan ini.
Ni Luh menepuk bahu Made dengan lembut, memberi isyarat untuk menyingkir.
Dengan perlahan, dia berjalan menuju pusat pura, sebuah altar batu tua yang
dipenuhi sesajen dan dupa. Di sana, Ni Luh mulai menyiapkan ritual terakhirnya,
dengan membakar kemenyan dan bunga-bunga persembahan.
“Apa yang dia lakukan?” seorang penduduk desa bertanya ketakutan, sementara
pemangku memperhatikan dengan cermat.
Ni Luh menengadahkan kedua tangannya ke langit, mulai melantunkan mantra
dalam bahasa Bali kuno yang hanya dipahami oleh mereka yang mendalami ilmu
kebatinan. Kata-katanya mengalun lembut, namun penuh dengan kekuatan yang
memancar dari setiap suaranya. Angin mulai bertiup lebih kencang, dan udara di
sekitar pura berubah—menjadi lebih berat, lebih pekat dengan energi yang tak
terlihat.
“Berhenti!” teriak pemangku, melangkah maju dengan kerisnya terangkat
tinggi. “Ini tidak bisa dibiarkan! Kita harus menghentikannya sebelum dia
memanggil roh jahat!”
Made mencoba menghalangi mereka, tetapi sebelum pemangku bisa
mendekat, angin yang berputar kencang di sekitar pura membuat obor-obor padam.
Bayangan-bayangan gelap mulai berkumpul di sekeliling mereka, dan dari balik
kabut, muncul sosok-sosok yang lebih menyeramkan—makhluk-makhluk yang tampak
seperti Leak, dengan wajah yang terdistorsi dan tubuh yang melayang di
udara.
“Roh-roh jahat!” teriak seseorang dari kerumunan, ketakutan. “Dia memanggil
mereka!”
Namun, Ni Luh tetap melanjutkan mantranya, wajahnya tetap tenang meskipun
tubuhnya terlihat semakin lelah. Made menyaksikan dengan ngeri saat sosok-sosok
Leak itu semakin mendekat, mengelilingi ibunya. Mereka tampak ingin
menyerang, tapi ada semacam kekuatan tak terlihat yang menahan mereka.
“Ini bagian dari ritual,” gumam Ni Luh di antara mantranya. “Aku harus
memanggil mereka… agar aku bisa memutuskan ikatan ini. Mereka adalah bagian
dari kutukan yang harus kutebus.”
Saat mantra mencapai puncaknya, Ni Luh tiba-tiba terhuyung ke belakang,
seolah kekuatannya habis. Made berlari ke arahnya, menangkap tubuh ibunya yang
hampir jatuh.
“Ibu! Apa yang terjadi?”
Ni Luh tersenyum lemah, darah mulai merembes dari sudut bibirnya. “Aku
sudah melakukan apa yang harus kulakukan, Nak. Mereka tidak bisa mengambilku
lagi. Kutukan ini sudah berakhir.”
Namun, sesaat kemudian, pemangku yang murka melemparkan kerisnya ke
arah Ni Luh. Keris itu melesat cepat, menembus tubuh wanita tua itu. Tubuh Ni
Luh terguncang, namun sebelum Made bisa bereaksi, bayangan Leak yang
melayang di sekitarnya berputar-putar dengan liar dan lenyap begitu saja ke
dalam kabut.
Akhir dari sebuah awal
Pagi tiba, namun bagi Made, dunia terasa begitu gelap. Ni Luh tergeletak
tak bernyawa di hadapannya, tetapi wajahnya tampak damai, seperti seseorang
yang akhirnya bebas dari beban yang terlalu lama ia pikul.
Penduduk desa dan Pemangku mulai mundur, ketakutan namun puas bahwa
sosok Leak telah tiada. Namun, di balik kepuasan mereka, Made tahu ada
sesuatu yang tidak adil terjadi. Penduduk desa dengan bantuan Pemangku telah
membunuh Ibunya, orang yang justru dengan iklas melindungi mereka dari kejahatan
Leak.
Waktu berlalu. Desa kembali tenang, seolah tidak ada yang pernah terjadi.
Namun, setiap malam, Made dengan tekun mempelajari kembali ilmu yang diturunkan
oleh Ayah dan Ibunya sejak kecil. Made selalu melihat bayangan ibunya di antara
kabut. Sosoknya berdiri di tepi sawah, menatapnya dengan senyuman penuh kasih
sayang, seakan masih menjaga Made dari dunia yang tak terlihat.
Made tahu, meski ritual sudah selesai, roh ibunya belum sepenuhnya pergi.
Penduduk desa dan Pemangku memiliki hutang yang harus dibayar!
TAMAT

0 Comments